Tampilkan postingan dengan label humor sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor sufi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juni 2010

Anekdot Sufi 06 (Lho, Kok Berat Sekali?)

Lho, Kok Berat Sekali?

Seorang pelaku dalam dunia sufi mencoba bicara maqomat, dan rahasia-rahasia Sufi kepada para sesama sahabatnya yang pemula. Si pelaku itu menulis sejumlah skema dunia Sufi sampai detil. Sementara para muridnya menyimak dan mencatat apa yang ditulisnya. Tiba-tiba salah satu dari mereka bicara:

“Wahai kawan, betapa berat perjalan sufi. Katanya Sufi itu gampang, ringan, dan mudah. Kenapa jadi berbelit-belit begini. Apalagi kalau harus ditempuh dari bawah seperti itu. Wah nggak mungkin saya mengamalkannya….” Kata pemula.

Si pelaku itu tertawa terbahak-bahak mendengarkan interupsi temannya. Sang pemula tambah bingung nggak karuan. Tadi kawannya menjelaskan begitu serius sampai dia merasa terbebani pikirannya, kini syekhnya malah tertawa-tawa, wah..wah..wah..ini tambah membingungkan. Apakah ada model sufi lain lagi selain yang serius tadi?
“Begini, kalau kamu melihat skema rumit yang sama tulis di papan tulis ini, jangan kamu pahami dengan pikiranmu, nanti yang muncul adalah renungan panjang yang tak henti-henti. Jangan pula kamu fahami lewat hawa nafsumu, nanti kamu malah lari dari tempat ini, karena hawa nafsu paling muntah kalau mendengar hikmah Sufi. Fahamilah dengan hatimu, maka seluruh skema ini akan hapus, cair dalam aliran hatimu….”
Sang pelaku memandnagi si pemula, dan sebaliknya, keduanya lalu tertawa terpingkal-pingkal.

“Apa yang kau tertawakan?” Tanya pelaku.
“Saya menertawakan seandainya pribadi guru diuraikan dalam skema itu….Lalu kenapa pula anda tertawa juga?”
“Karena saya melihat dirimu terurai seperti benang kusut…ha..ha..ha…”
keduanya tertawa lagi….husss.!

Jumat, 04 Juni 2010

Anekdot Sufi 04 (Dokter "Celup")

DOKTER "CELUP"

Dokter Nadzim kini makin populer disebut dengan predikat barunya: dokter “terkun” alias dokter dukun. Pasalnya, ia selalu memberi resep pada semua pasien yang datang berobat kepadanya. Bukan resep catatan daftar obat tentu, tapi cuma sebuah kertas yang ditulisi kata “Basmalah”.

Ketika praktik di Situbondo, Jawa Timur, dokter Nadzim sangat terkejut karena semakin banyak dikunjungi pasiennya. Konon, resep dokter Nadzim selalu cespleng.

Suatu hari, ia dikejutkan oleh kedatangan seorang pasien yang membawa resepnya. Tapi resep itu kelihatan sudah kumal dan bahkan semua tulisannya kabur tercelup air.

“Pak Dokter, saya minta obatnya lagi. Ini kertasnya sudah hampir habis,” pintanya.
Dokter Nadzim tak habis pikir, apa maksud si pasien yang datang dengan sobekan resep yang lusuh itu.
“Lho, kok cepat sekali habisnya?”
“Iya Dok. Sehari saya celup tiga kali, lalu saya minum.”
Dokter Nadzim semakin bertambah bingung.
“Yang dicelup apanya?”
“Ini Dok,” kata si pasien sambil menunjukkan kertas “resep” yang sudah kumal tadi.
Dokter Nadzim baru paham kalau resepnya ternyata disalah pahami oleh si pasien.

“Kata dokter tadi diminum tiga kali sehari, ya saya laksanakan hingga penyakit saya pun kini sembuh.”

“Begini, Bu. Ini saya buatkan resep lagi ya! Nanti datang ke apotik, ditukar dengan obat dan setelah itu obatnya diminum. Bukan dicelup lalu diminum,” jelas dokter sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Pasien itu kemudian menuruti nasehat dokternya. Ia kemudian pergi ke apotik untuk menukarkan resep obatnya.

“Lho, kok, mahal Pak!,” kata si pasien kepada petugas apotik. “Kalau begitu saya tidak jadi beli. Lebih murah resepnya dari pada obatnya. Padahal resepnya lebih manjur kalau dicelup,” kata si pasien sambil melengos pergi.
Gara-gara pengalaman si pasien itu, dokter Nadzim pun jadi laris. Banyak pasiennya yang hanya mencelup resepnya saja di dalam segelas air, lalu diminum dan sembuh.

Tapi belakangan dikabarkan, dokter Nadzim mengundurkan diri dari praktik. Ia khawatir kalau-kalau “resepnya” itu dianggap melanggar etika kedokteran.