Tampilkan postingan dengan label Kisah Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sufi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juni 2010

Kisah Teladan 05 (Futuwwah Nabi Ibrahim A.S)

Futuwwah Nabi Ibrahim A.S

Futuwwah adalah sikap kepedulian sosial atau kemanusiaan tanpa membeda-bedakan suku, agama atau ras. Seorang sufi mengatakan, futuwwah itu tak lain jika Anda tidak membedakan makan bersama dengan seorang wali atau seorang kafir.

Alkisah, ada seorang kafir Majusi mengundang makan kepada Nabi Ibrahim a.s.
“Aku mau menerima undanganmu dengan satu syarat, kamu memeluk agama Islam,” kata Ibrahim.

Mendengar jawaban demikian, si Majusi itu pergi begitu saja. Tiba-tiba Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim. “Selama lima puluh tahun Kami memberinya makan, sekalipun dia seorang kafir. Apa salahnya jika kamu menerima seporsi makanan darinya tanpa menuntutnya untuk mengganti agamanya.”
Setelah turun wahyu itu, Nabi Ibrahim mengejar si Majusi yang sudah jauh pergi. Setelah tersusul, Nabi Ibrahim lalu meminta maaf atas kata-katanya tadi.

“Mengapa Anda meminta maaf ?” tanya si Majusi.
“Ibarhim menceritakan peristiwa yang baru saja dialami. Ibrahim ditegur oleh Allah. Tapi anehnya, mendengar kisah yang dituturkan Ibrahim, si kafir Majusi itu akhirnya malah masuk Islam.

Rabu, 09 Juni 2010

Kisah Teladan 04 (Ingin Mimpi Bertemu Nabi SAW.)

Ingin Mimpi Bertemu Nabi SAW.

Dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan syaikhnya. Sang syaikh dengan wajah dan suara berwibawa bertanya kepadanya,"Apakah gerangan merisaukanmu?"
"Wahai syaikh, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginanku belum juga terkabul," jelas si murid.

"Oo... rupanya itu yang kau inginkan. Tunggu sebentar..."
Sang syaikh mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.
"Nih..., bacalah setiap hari seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu."

Dengan wajah berseri pulanglah si murid membawa catatan itu. Namun, setelah beberapa minggu, kembalilah si murid ke rumah syaikhnya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak menghasilkan apa-apa. Sang syaikh segera memberikan bacaan lain. Namun, beberapa minggu kemudian muridnya kembali dengan lesu memberitahukan bahwa bacaan itu pun masih belum menghasilkan apa-apa.

Setelah diam beberapa saat, berkatalah sang syaikh, "Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam." Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah ia ke rumah sang syaikh untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat syaikhnya hanya menghidangkan ikan asin saja.

"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata sang syeikh kepada muridnya.

Karena tergolong murid taat, maka ia habiskan seluruh ikan asin yang ada. Selesai makan ia merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang mudah kehausan. Ia segera meraih segelas air dingin yang ada di hadapannya.

"Letakkan kembali gelas itu!" perintah sang syaikh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"

Dengan penuh rasa heran diturutinya perintah syaikhnya. Malam itu ia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga
akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu ia mimpi, Syeikhnya menyodorkan segelas air dingin. Setelah minum, ia terjaga dari tidurnya. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.

"Apa yang kau impikan?" tanya sang syeikh yang berdiri tak jauh darinya.
"Syaikh aku tidak memimpikan Nabiku SAW, aku mimpi minum air."

Tersenyumlah sang syaikh mendengar jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata, "Jika cintamu pada Nabi SAW seperti cintamu pada air sejuk itu niscaya kau akan memimpikannya."

Menangislah si murid. Ia baru sadar bahwa ternyata dalam hatinya belum cukup ada rasa cinta kepada Nabi. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih banyak meninggalkan sunahnya. Ia masih belum meneladani akhlaknya. Ia masih lebih mencintai air..

Minggu, 06 Juni 2010

Kisah Teladan 03 (Keteguhan Hati Ummu Ghailan)

Keteguhan Hati Ummu Ghailan

Ini kisah yang dialami Junaid al-Baghdadi, seorang sufi terkemuka. Suatu hari, Junaid berjumpa dengan salah seorang penempuh jalan Ilahi (salik) di padang pasir. Orang itu sedang duduk di bawah pohon. Ternyata ia adalah Ummu Ghailan.

“Mengapa Anda duduk si situ?” tanya Junaid.

“Begini, ada peristiwa, aku telah kehilangan sesuatu, tetapi aku biarkan saja. Ketika aku kembali dari ibadah haji bersama seorang pemuda, tiba-tiba kutemukan barang itu. Barang itu telah pindah ke tempat di dekat pohon ini,” ia menjelaskan.

“Terus, kenapa Anda duduk di situ?,” Tanya Junaid lagi.
“Aku telah menemukan apa yang aku cari di tempat ini, jadi aku tetap saja duduk di sini.”

Lalu. Junaid hanya bicara pada dirinya sendiri, ”Aku tidak tahu mana yang lebih mulia, kegigihannya karena kehilangan keadaan, atau keteguhan hatinya tinggal di mana, ia telah mencapai kehendaknya.

Kamis, 03 Juni 2010

Kisah Teladan 01 (Adab Kepada Orang Lain)

Adab Kepada Orang Lain


Imam al-Junaid al-Baghdadi bercerita, bahwa pada suatu hari, tepatnya hari Jum’at, sebagian orang-orang yang saleh datang kepadamya dan meminta dikirimkan salah seorang miskin untuk memberikan kebahagiaan dengan makan bersamanya.

Al-Junaid pun melihat-melihat orang di sekitarnya, siapa di antara mereka yang fakir dan kelihatan lapar. Si fakir itu pun lalu ditemukan.
“Pergilah bersama Syekh ini, berilah kebahagiaan kepadanya,” kata al-Junaid.

Tak lama kemudian, syekh itu kembali pada al-Junaid.
“Wahai Abu al-Qasim,” kata Syekh itu pada al-Junaid, “Si fakir itu hanya makan sesuap saja dan pergi meninggalkan engkau.”
“Barangkali Anda telah mengatakan semua yang tak berkenan di hatinya.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab syekh itu.

Al-Junaid menoleh, tiba-tiba si fakir itu sudah duduk di antara mereka.
“Mengapa engkau tidak memenuhi kegembiraannya?” tanya al-Junaid.
“Wahai Syekh, saya pergi pergi meninggalkan Kuffah menuju Baghdad tanpa makan sesuatu apa pun. Saya tidak ingin kelihatan tidak sopan di hadapan Anda karena kemiskinan saya, tetapi ketika Anda memanggil saya, saya gembira karena Anda mengetahui kebutuhan saya sebelum mengatakan apa-apa. Saya pun pergi kepadanya, sambil mendoakan akan kebahagaiaannya di surga. Ketika saya duduk di meja makannya ia menyuguhkan makanan, sambil berkata, “Makanlah ini, karena aku menyukainya dibanding sepuluh dirham. Ketika mendengar kata-katanya, tahulah saya bahwa cita rasanya rendah sekali. Karena itu saya tidak suka makan makanannya.”

“Bukankah aku telah mengatakan padamu, bahwa engkau tidak beradab jika membiarkannya tidak merasa bahagia?”
“Wahai Abu al-Qasim, saya bertobat.”

Al-Junaid lalu menyuruhnya agar kembali pada orang saleh yang memberi makan tadi, untuk sekadar menggembirakan hatinya.